LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI TANAH
oleh :
1. Evi Erawanny Sirait A1E007002
2. Revino A1E007010
3. Widya Kurniawati A1E007016
4. Desi Irianti A1E007018
5. Ichsan Habibi A1E007019
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
ILMU TANAH
PURWOKERTO
2009
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Respirasi tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikrobia tanah. Metode respirasi tanah masih sering digunakan karena cukup peka, konsisten, sederhana, dan tidak memerlukan alat yang canggih dan mahal. Pengukuran respirasi tanah ditentukan berdasarkan keluaran CO2 atau jumlah O2 yang dibutuhkan oleh mikrobia. Laju respirasi maksimum biasanya terjadi setelah beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia. Oleh karena itu pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe atau perkembangan mikrobia tanah.
Mikrobia dalam tanah berpengaruh terhadap sifat tanah dan terhadap pertumbuhan tanaman. Peran mikrobia terhadap sifat tanah antara lain peranannya dalam pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara. Sedangkan peran mikrobia terhadap pertumbuhan tanaman terbagi atas : (1) yang menguntungkan, (2) yang merugikan, dan (3) tidak berpengaruh (netral).
Pertumbuhan mikrobia pada media tumbuh dicirikan dengan adanya indikator berupa kekeruhan, pembentukan gas, perubahan subtrat, atau pembentukan agregat sel mikrobia. Metode sederhana dan sering digunakan untuk menentukan total mikrobia ialah metode agar cawan petri. Prinsip media yang digunakan seminimal mungkin mengandung senyawa penyedia energi cepat tersedia, seperti gula dan protein. Hal ini dibuat agar mikrobia yang tumbuh tidak didominasi oleh mikrobia yang cepat tumbuh dan menghambat mikrobia lainnya. Total (jenis dan jumlah) mikrobia dalam tanah dapat digunakan sebagai pencari (deskriptif) bukan indek kesuburan tanah, dikarenakan banyak faktor lain yang menentukan kesuburan tanah.
B. Tujuan
1. Menghitung jumlah CO2 hasil proses respirasi oleh mikrobia pada berbagai jenis tanah.
2. Menghitung jumlah koloni total mikrobia pada berbagai jenis tanah.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Respirasi Tanah
Sala satu penyusun bahan organik adalah karbon dengan bobot kering 45-50%. Bahan organik dirombak oleh mikrobia dihasilkan CO2, air, hasil antara, bahan sel dan energi. Proses perombakan aerobik dibutuhkan O2, dan dihasilkan sekitar 60 sampai 80% CO2. Sebagai indek aktifitas mikrobia dikenal RQ (respirasi quotient), yaitu volume CO2 yang dihasilkan/volume 02 yang dikonsumsi. Besarnya RQ sangat ditentukan oleh C/O substrat, lingkungan dan jenis mikrobia yang terlibat. Sebagai gambaran karbohidrat mempunyai RQ sekitar satu, bahan yang kaya oksigen (asam organik) mempunyai RQ lebih dari satu, dan bahan yang sedikit mengandung oksigen (lemak) mempunyai RQ kurang dari satu.
Penentuan respirasi tanah lebih sering mengukur keluaran CO2 dibanding kebutuhan O2, karena :
1. Mikroba anaerobik tetap menghasilkan CO2 tidak mengkonsumsi O2
2. Mikrobia mengandung enzim dekarboksilase aktif, sehingga walaupuntida mengkonsumsi O2, tetap menghasilkan CO2
3. Terjadinya dekarboksilasi kimia oleh enzim bebas
4. Sulit untuk membuat kondisi benar-benar aerob.
Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Penetapan respirasi tanah adalah berdasarkan penetapan jumlah CO2 yang dihasilkan oleh mikroorganisme tanah dan jumlah O2 yang digunakan oleh mikroorganisme tanah. Metode pengukuran CO2 yang dihasilkan oleh mikroorganisme tanah dapat digunakan untuk contoh tanah tidak terganggu (undisturbed soil sample), maupun untuk contoh tanah terganggu (Iswandi, Anas. 1988).
Kecepatan respirasi maksimum biasanya terjadi beberapa hari atau beberapa minggu setelah jumlah mikroorganisme mencapai maksimum seperti yang ditetapkan berdasarkan metode agar cawan. Kecepatan respirasi lebih mencerminkan aktivitas metabolik daripada jumlah, tipe atau perkembangan mikrobiota tanah.
Respirasi mikroorganisme tanah sangat kompleks, banyak metode yang telah diusulkan untuk menangkap gas yang dihasilkan dan untuk menganalisisnya. Perbedaan utama pengukuran respirasi tanah secara langsung di lapangan dengan contoh yang dibawa ke laboratorium adalah dalam hal pengumpulan CO2 yang dihasilkan. Metode kuantitatif untuk menganalisis CO2 dan O2 dapat digunakan untuk kedua keadaan tersebut.
Prosedur di laboratarium meliputi penetapan pemakaian O2 atau jumlah CO2 yang duhasilkan dari sejumlah cuntoh tanah dan diinkubasi dalam keadaan yang diatur di laboratarium. Bahan organik ataupun anorganik dapat ditambahkan kedalam contoh tanah. Contah tanah yang digunakan dapat kering udara ataupun yang telah disesuaikan kadar airnya pada kadar air yang dikehendaki sebelum diinkubasi.
1. Inkubasi dalam keadaan stabil (steady-state)
Untuk keadaan yang stabil, kadar air, temperatur, kecepatan aerasi, dan pengaturan ruangan harus dilakukan dengan sebaik munggkin. Telah banyak dilaporkan bahwa peningkatan respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi tanah selama inkubasi. Oleh karena peningkatan respirasi adalah disebabkan perubahan lingkungan yang luar biasa, hal ini bisa tidak mencerminkan keadaan aktivitas mikroorganisme dalam keadaan lapang, cara ”steady-state” telah digunakan untuk mempelajari dekomposisi bahan organik, dalam penelitian potensi aktivitas mikroorganisme dalam tanah dan dalam penelitian perkembangan dan ekologi dan mikrobiota tanah.
2. Inkubasi dalam keadaan yang berfluktuasi
Cara fluktuasi melibatkan pemberian substrat ke dalam tanah baik secara terus menerus ataupun secara terputus-putus, pengocokon tempat inkubasi atau pemberian aerasi terputus-putus. Karena terjadinya perubahan yang terus menerus antara partikel, substrat sel mikroorganisme, dan lapisan air maka terjadi penghancuran benang-benang miselium, pengangkutan sel dan spora ke tempat dimana konsentrasi substrat tinggi, distribusi kembali dari substrat, dan hasil metabolik antara zat penghambat. Cara fluktuasi telah digunakan terutama untuk penelitian melipatgandakan populasi mikroorganisme dan untuk meneliti aktivitas kelompok mikroorganisme tertentu
B. Penetapan Total Mikrobia
Kesuburan tanah tidak hanya bergantung pada komposisi kimiawinya melainkan juga pada ciri alami mikroorganisme yang menghuninya. Mikroorganisme yang menghuni tanah dapat dikelompokkan menjadi bakteri, actinomycetes, jamur, alga dan protozoa (Subba Rao. 1994).
Di dalam tanah hidup berbagai jasad renik (mikroorganisme) yang melakukan berbagai kegiatan yang menguntungkan bagi kehidupan makhluk-makhluk lainnya. Tanah tersusun dari unsur-unsur yang secara luas dibagi dalam 5 kelompok (Sutedjo, dkk. 1991), yaitu :
a. Partikel-partikel mineral, yang dapat berubah-ubah ukuran dan tingkat hancuran mekanis dan kimiawinya.
b. Sisa-sisa tanaman dan binatang, kesemuanya membusuk dan hancur dan menyatu dengan partikel-partikel di atas. Sisa-sisa tanaman dapat pula berwujud humus atau bahan-bahan humus.
c. Sistem kehidupan, termasuk berbagai kehidupan tanaman lebih tinggi, sejumlah bentuk binatang seperti serangga, protozoa, cacing tanah, algae, fungi dan bakteri.
d. Air, berkandungan konsentrasi larutan garam-garam anorganik dan campuran-campuran atau senyawa organik tertentu.
e. Berbagai gas. Perubahan-perubahan anggapan dan pengertian mengenai sifat alami populasi tanah disertai juga dengan timbulnya kenyataan atas hubungan populasi tanah tersebut pada proses-proses tanah.
Dalam hubungan penelitian kegiatan-kegiatan populasi di dalam tanah, ada beberapa metode (Sutedjo, dkk. 1991), yaitu :
a. Metode larutan
Sedikit tanah diambil sebagai sampel ditambahkan pada larutan encer yang berkandungan beberapa macam zat/bahan. Perubahan-perubahan kimiawi yang berlangsung dalam komposisi bahan-bahan yang khusus ditentukan dengan berbagai prosedur analitis.
b. Metode tanah
Mejumlah kecil zat/bahan tertentu ditambahkan pada sebanyak sampel tanah tertentu, kelembaban diatur hingga optimum, sampel disimpan di laboratorium untuk sementara waktu tertentu.
c. Metode mikroskopis
Pengujian berbagai mikroorganisme tanah dengan jalan pewarnaan dan penelituan dengan mikroskop.
Menurut Sutedjo (1991), beberapa metoda seperti Metoda Lempeng Agar dan Metoda Larutan memeberikan informasi yang berhubungan dengan berlimpahnya golongan mikroorganisme yang dapat berkembang terus atau kemampuan berkembangbiak, yang juga bersangkutpaut dengan sifat atau keadaan alami proses-proses biokhemis yang berpengaruh terhadap keberadaan organisme di dalam tanah. Metoda-metoda ini berdasar pada perkembangan sel-sel hidup dalam berbagai bentuk koloni.
Di dalam alam , mikroba terdapat sebagai populasi campuran dari berbagai jenis mikoba yang berbeda. Untuk menunbuhkan suatu biakan bakteri dalam media steril sejumlah sel-sel (inokulum) dipindahkan (diinokulasi) ke dalam media dengan perlakuan khusus untuk mempertahankan kemurnian biakan.
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba yang lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya.
Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada beberapa tempat yang terpisah, maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah, sehingga memudahkan pemisahan selanjutnya.
Kegiatan organisme tanah yang menguntungkan tumbuhan (Soepardi, Goeswono. 1979) :
a. Dekomposisi bahan organik
Melalui proses ini bahan organik dihancurkan, dan suatu pemupukan yang tidak diinginkan dapat dihindarkan. Selanjutnya, unsur hara yang terikat dalam bentuk organik menjadi tersedia bagi tumbuhan. Nitrogen merupakan contoh utama. Pada waktu yang bersamaan agregat tanah menjadi lebih mantap karena adanya bahan organik yang merupakan pengikat agregat tersebut. Efek terhadap sifat fisik dan kimia tanah sangat membantu pertumbuhan tanaman.
Hasil dekomposisi, diantaranya asam-asam organik sangat mempengaruhi kesuburan tanah. Asam organik dan anorganik mempunyai kemampuan melarutkan beberapa mineral. Misalnya pengaruh asaam karbonat terhadap batu kapur (CaCO3), kemudian pengaruh asam nitrat dan asam sulfat membantu melarutkan fosfat dari batuan fosfat, besi dan mineral.
b. Transformasi anorganik
Munculnya senyawa-senyawa amonium dan nitrat dalam tanah merupakan hasil serangkaian reaksi biokimia yang dimulai dari protein dan senyawa lainnya. Reaksi tersebut penting bagi tumbuhan karena tumbuhan menyerap nitrogen dalam bentuk amonium dan nitrat. Perubahan-perubahan anorganik yang diprakarsai oleh reaksi biologi ialah besi dan mangan. Pada tanah dengan drainase baik besi dan mangan dioksidasikan oleh jasad ototropik. Daya larut bentuk besi dan mangan sangat rendah pada pH yang rendah dengan demikian menekan kemungkinan terjadinya keracunan oleh kedua unsur tersebut.
c. Pengikatan nitrogen
Nitrogen dijumpai dalam udara dalam jumlah banyak, tetapi tidak tersedia bagi tumbuhan. Ada dua golongan bakteri yang mengikat nitrogen dan menjadikannya tersedia bagi tumbuhan yaitu : organisme nodul yang terdapat pada logum, dan bakteri yang secara bebas mengikat nitrogen. Bakteri legum menggunakan karbohidrat dari tumbuhan inang sebagai sumber energi, mengikat nitrogen dan meneruskan sebagian nitrogen pada tumbuhan inangnya. Sebagian dari nitrogen yang diikat tetap berada dalam akar dan nodul-nodul yang terlepas. Nitrogen ini akan dihancurkan oleh jasad lain dan berakhir dalam bentuk amonium dan nitrat.
Bakteri yang secara bebas mengikat nitrogen udara memperoleh energi dari bahan organik tanah, mengikat nitrogen dan menjadikan nitrogen tadi sebagian dari tubuhnya. Bila mati, pelapukan, amonifikasi dan nitrifikasi menyebabkan sebagian nitrogen yang diikat dari udara tersedia bagi tumbuhan.
Pengaruh buruk jasad renik terhadap tumbuhan (Soepardi, Goeswono. 1979) :
1. Fauna tanah
Beberapa fauna tanah merugikan dan merusak tumbuhan misalnya : roden, moluska, keong, bekicrot, nematoda. Hampir seluruh akar tumbuhan diganggu oleh nematoda, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu.
2. Flora mikro dan penyakit tumbuhan
Tumbuhan mikro yang hidup dalam tanah dan merusak tumbuhan misalnya : bakteri, fungi, dan aktinomicetes. Penyakit tumbuhan misalnya : layu, layu bibit, akar busuk, akar buruk pada kool, lanas kentang yang disebabkan oleh aktinomicetes. Organisme yang merusak hidup dalam tanah untuk beberapa waktu lamanya. Beberapa diantaranya akan menghilang dalam setahun, bila tanaman inangnya tidak ditanam disitu, tetapi yang lain akan tetap berada untuk waktu yang lama.
III. METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Respirasi Mikrobia
a. Alat
· Toples
· Beker glass
· Lakban
· Titrasi
b. Bahan :
· Tanah sawah
· Tanah pasir
· Tanah kebun campur
· Tanah tegalan
· H2O
· KOH
· HCl 0,1 N
· Penolptalin
· Metal orange
2. Penetapan Total Mikrobia
- Alat :
· Kompor listrik
· Tabung Erlenmeyer
· Kapas
· Alumunium oil
· Gelas piala
· Cawan petri
· Kertas payung
· Pinset
· Timbangan analitik
· Pipet
· Pembakar bunsen
- Bahan :
· Tanah sawah
· Alkohol 70%
· Medium agar
· NaCl.
B. Prosedur Kerja
1. Respirasi Tanah
a. Sampel tanah sawah diambil sebanyak ± 5 kg.
b. Sebanyak 1 kg tanah ditimbang dan dimasukkan ke dalam toples.
c. Pada toples diletakkan 2 beker glass yang masing – masing berisi KOH sebanyak 20 ml, dan H2O sebanyak 25 ml.
d. Kemudian toples ditutup dengan penutup toples, kemudian dilakban dengan rapat.
e. Tanah dalam toples tersebut diinkubasi dalam ruangan selama 7 hari.
f. Pada hari ke 7 dilakukan titrasi untuk mencari berapa CO2 yang terbentuk. Caranya:
1) Ditambahkan 2 tetes Penolptalin ke dalam beker glass yang berisi KOH. Ditambahkan 0,1 HCl sampai warna merah hilang. Dicatat volume HCl yang diperlukan.
2) Ditambahkan 2 tetes Metil Orange. Titrasi lagi dengan HCl 0,1 N sampai warna kuning berubah menjadi pink. Dicatat volume HCL yang dibutuhkan.
3) Dilakukan cara yang sama untuk H2O.
g. Perlakuan yang sama juga dilakukan untuk jenis tanah yang lainnya.
2. Penetapan Total Mikrobia
a. Nutrien agar dipanaskan pada kompor listrik hingga cair.
b. Disiapkan 1 erlenmeyer yang berisi 90 ml NaCl fisiologis, dan 4 tabung reaksi yang berisi 9 ml larutan NaCl fisiologis.
c. Disiapkan 5 petridis, 5 pipet 1 ml, lampu petridis, dan siapkan tanah.
d. Semua alat, tempat dan tangan disterilkan dengan alkohol 70%.
e. Sebanyak 10 gram tanah ditimbang, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 90 ml, kocok 100 kali.
f. Diambil 1 ml dengan pipet, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi 1, kocok 10 kali (pengenceran (101).
g. Diambil 1 ml dengan pipet pada tabung reaksi 1, kemudian dimasukkan dalam petridis 1.
h. Diambil 1 ml lagi, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi 2, kocok 10 kali.
i. Lakukan langkah 5 sampai 7 untuk pengenceran (102-105).
j. Nutrien agar dimasukan ke dalam masing – masing petridis jika sudah 50 % dingin.
k. Setelah 10 menit, dibungkus dengan kertas kemudian di inkubasi selama 24 jam.
l. Setelah 24 jam, dihitung koloni bakterinya yang nampak pada petridis.
m. Perlakuan yang sama juga dilakukan untuk Janis tanah lainnya.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Resirasi Mikrobia
1. Tanah sawah
a = 35,4 ml
b = 0,75 ml
t = 0,1 N HCl
n = 10
r = 
r = 
r = 
r = 4,16 mg C-CO2/k. hari
2. Tanah pasir
a = 35,5 ml
b = 4 ml
t = 0,1 N HCl
n = 10
r = 
r = 
r = 3,78 mg C-CO2/kg.hari
3. Tanah kebun campur
a= 35,7 ml
b= 0,3 ml
t= 0,1 N
n= 10


= 4,248 mgC-CO2/ kg.hari
4. Tanah Tegalan
a= 34,8 ml
b= 0,2 ml
t= 0,1
n= 10


=4,152 mgC-CO2/ kg.hari
B. Penetapan Total Mikrobia
1. Tanah sawah
Ø Penetapan kadar air
Berat botol timbang A=21,6640 gr
B=18,0722 gr
Botol timbang + tanah A=28,3320 gr
B=26,5552 gr
Botol timbang + tanah + dioven A=25,5698 gr
B=23,4681 gr
Penetapan kadar air A=
=
=70,72%
Penetapan kadar air B=
=
= 57,21%
Kadar air tanah sawah rata-rata=
= 63,96%
Ø Total mikrobia = 53x104x
= 530000x1.6
= 0,85x106 SPK/gr TKM
2. Tanah pasir
Penetapan kadar air A=
=
=18,65%
Penetapan kadar air B=
=
= 17,63%
Kadar air tanah sawah rata-rata=
= 18,14%
Ø Total mikrobia = 7x104x
= 8,3x104SPK/gr TKM
3. Tanah kebun campur
1. Total Mikroba
103 = -
104 = 120 koloni
105 = 11 koloni
106 = 4 koloni
Total mikroba= 120 x 104 x ( 100+51,22)
100
= 1,814.640
= 1,8 x 106 spk/gram TKM
4. Tanah Tegalan
Penetapan kadar air A =
= 
= 50,9%
Penetapan kadar air B =
= 
= 49,9%
Kadar air tanah sawah rata-rata=
= 50,4%
Total mikroba = 134 x 104 x 
= 2,015 x 106 SPK/gr TKM
V. PEMBAHASAN
A. Respirasi Tanah
Kecepatan respirasi lebih mencerminkan aktivitas metabolik daripada jumlah, tipe atau perkembangan mikroba tanah. Tanah yang dijadikan contoh pada praktikum ini adalah tanah sawah dalam keadaan lembab sebanyak 1 kilogram. Vegetasi disekitar tanah sawah adalah tanamn padi, rumput, dan kacang panjang. Tanah ini dimasukkan ke dalam sebuah toples dan diratakan permukaanya. Kemudian ke dalam toples tersebut dimasukkan dua beker gelas yang masing–masing berisi KOH sebanyak 20 ml, dan H2O sebanyak 25 ml, selanjutnya toples ditutup dan dilakban dengan rapat kemudian diinkubasi selama 7 hari. Inkubasi ini bertujuan untuk menjaga agar tanah tidak terkontaminasi dengan lingkungan luar, sehingga pengamatan untuk mengetahui adanya respirasi tanah dapat diperoleh hasil yang akurat. Pada hari ke 7 dilakukan titrasi untuk mencari berapa CO2 yang terbentuk.
Penambahan HCl pada tahap kedua titrasi berhubungan langsung dengan jumlah CO2 yang difiksasi.
Reaksi :
1. Perubahan warna menjadi tidak berwarna (pp) : K2CO3 + HCl → KCl + KHCO3
2. Perubahan warna kuning menjadi pink (metil orange) : KHCO3 + HCl →KCl + H2O + CO2
Tanah mineral mempunyai nilai r antara 5 sampai 10 pada minggu pertama inkubasi dan turun menjadi 1 sampai 5 bila tanah berada dalam keadaan keseimbangan.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa nilai respirasi tanah yang dihasilkan pada tanah sawah, tanah pasir, kebun campur dan tegalan berturut-turut yaitu 4,16 ; 3,78 ; 4,248 ;4,152 mg C-CO2/kg.hari. Hal ini berarti tanah yang paling banyak menghasilkan mikrobia adalah tanah kebun campur. Artinya tanah kebun campur lebih banyak mengandung bahan organik dari pada tanah lain. Seperti daun, batang yang jatuh (gugur) lama kelamaan akan menjadi humus dimana mikrobia dapat tumbuh dengan baik. Selain itu berbagai jenis tanaman di kebun campur juga berpengaruh terhadap pertumbuhan mikrobia.
Apabila substrat yang mengandung karbon dioksidasi di dalam tanah, maka dikeluarkan CO2. Jumlah CO2 yang dihasilkan umumnya dipakai sebagai indeks untuk kegiatan total mikroflora tanah. Air atau larutan penyangga ditambahkan di atas tanah dengan tujuan menghasilkan kelembaban yang diperlukan. Sedangkan Kalium Hidroksida berfungsi meningkatkan luas permukaan untuk penyerapan CO2. Peningkatan respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi tanah selama inkubasi.
B. Penetapan Total Mikrobia
Pada praktikum ini media yang digunakan untuk penetapan jumlah total mikroorganisme tanah adalah Nutrient Agar (NA). Nutrient Agar (NA) termasuk media buatan yang cukup kaya sehingga mikroorgnisme seperti bakteri, kapang, actinomicetes dapat tumbuh bervariasi, namun media buatan ini seringkali dipakai dalam penetapan jumlah mikroorganisme total yang ada dalam suatu contoh.
Keuntungan menggunakan Nutrient Agar adalah penyiapannya yang sangat praktis. Caranya adalah dengan menimbang 14 g Nutrient Agar dan dilarutkan dalam 400 ml aquades. Setelah larut, ditambah H2O sampai menjadi 500 ml. Disterilkan dengan uap air pada tekanan 15 atm dan suhu 1210 C selama 20 menit. Temperatur medium (agar) sebaiknya sekitar 420 sampai 450C bila temperatur terlalu tinggi mikroorganisme akan mati, namun temperatur yang terlalu rendah juga akan terjadi penggumpalan dan perhitungan yang dilakukan akan memberikan hasil yang kurang memuaskan.
Setelah pembuatan media selesai maka dibuat seri pengenceran dari 101-105. Idealnya untuk memindahkan 1ml larutan 101 dalam pembuatan 102 dan dari 102 untuk membuat larutan 103 dan seterusnya digunakan pipet yang steril, dan pengocokan suspensi tanah. Jumlah media yang dituangkan ke cawan petri berkisar antara 10-15 ml. Sebelum dituangkan, maka mulut wadah medium disterilkan terlebih dahulu dengan melewatkan pada api bunsen. Supaya suspensi mikroorganisme dapat tersebar dengan merata pada cawan agar. Kemudian diinkubasi selama satu hari. Hasilnya diperoleh jumlah mikroba tanah sawah untuk seri pengeceran 101 adalah 0,85x106 SPK/gr TKM . Dari hasil pengamatan terdapat cawan petri dengan jumlah koloni kurang dari batas 30-300 koloni. Hal tersebut disebabkan karena pembuatan seri pengeceran yang kurang teliti dan telah terjadi kontaminasi.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa penetapan total mikrobia pada tanah sawah, tanah pasir, kebun campur dan tegalan berturut-turut adalah 0,85 x 106; 8,3 x 104 ; 1,8 x 106 ; 2,015 x 106 SPK/gr TKM. Hal ini berarti total mikrobia tertinggi adalah pada tanah tegalan sedangkan terendah adalah tanah pasir. Artinya pertumbuhan mikrobia dipengaruhi oleh sifat tanah dan pertumbuhan tanaman serta kandungan bahan organik.
Faktor yang berpengaruh atas berlimpahnya populasi mikroorganisme dalam tanah, yang paling penting yaitu zat/bahan organik, reaksi, kelembaban, temperatur, aerasi dan keadaan alami pertumbuhan tanaman. Distribusi mikroorganisme di dalam tanah karenanya terkendali oleh sejumlah faktor ekologis, terdiri dari faktor klimatik atau atmosferik, edhapik atau tanah, dan biotik atau kehidupan. Meskipun telah diketemukan hanya hubungan yang kurang penting artinya antara jumlah-jumlah dan macam-macam mikroorganisme dengan kondisi-kondisi klimatik, namun dengan faktor-faktor edhapik dan biotik hubungan itu mempunyai arti yang besar/penting. Sejumlah bahan organik dalam tanah berpengaruh secara menyolok atas jumlah-jumlah berbagai mikroorganisme, sedangkan reaksi berpengaruh besar atas rasio cendawan sampai bakteri dan aktinomicetes.
KESIMPULAN
1. Jumlah CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas metabolik mikrobia yang tertinggi adalah tanah kebun campur 4,248 mg C-CO2/kg hari dan yang terendah adalah pasiran 3, 78 mg C-CO2/kg hari.
2. Jumlah koloni mikrobia yang tertinngi adalah tanah tegalan 2,015 x 106 SPK/gr TKM dan yang terendah adalah tanah sawah 8,3 x 104 SPK/gr TKM
3. Faktor yang memprngaruhi pertumbuhan mikrobia adalah zat/bahan organik, reaksi, kelembaban, temperatur, aerasi dan keadaan alami pertumbuhan tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Rao, N. S. Subba. 1999. Soil Microbiology. Science Publisher, Inc. USA
Sutedjo, Mul Mulyani. 1991. Mikrobiologi tanah. Rineka cipta , Jakarta
